KARYA ILMIAH TEORI – TEORI BUDAYA


 

KARYA ILMIAH

TEORI – TEORI BUDAYA



 

OLEH:

OZA OKTIVA

11220238

 

KELAS 1EA07

FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

2020


Kata Pengantar

 

             Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan karya ilmiah tentang “TEORI – TEORI BUDAYA”.

 Karya tulis ini telah kami  susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat mempelancar pembuatan karya ilmiah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihakyang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini.

. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar kami dapat memperbaiki karya ilmiah ini.

 Akhir kata, kami berharap semoga karya tulis ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi karya tulis ini agar menjadi lebih baik.

 

Jakarta, 31 Oktober 2020

 

Penulis,


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………….................…….…………i

DAFTAR ISI………………………………………………………................…………...ii

BAB I PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang…………………………………….....…..........……………...1

B.   Identifikasi Masalah……………………………….....……….…...........…….2

C.   Pembatasan Masalah…………………………….....…………..........….…….2

D.   Perumusan Masalah……………………………….....………...........………..2

E.    Tujuan Penulisan…………………………………………..............................3

 

BAB II PEMBAHASAN

A.   Pengertian Budaya………………………………………..………..........….…4

B.   Teori – Teori Budaya…………………………………………………..............5

C.   Analisis……………………………………………………………….........….9

 

BAB  III PENUTUP

A.   Kesimpulan……………………………………………………,,,,,,,,,…….....10

B.   Saran……………………………………………………………….........…...10

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang


Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Menurut M.Selamet Riyadi, Budaya adalah suatu bentuk rasa cinta dari nenek moyang kita yang diwariskan kepada seluruh keturunannya. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, dan tindakan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar.

            Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Warisan kebudayaan  yang secara turun-temurun juga dijadikan oleh kelompok masyarakat sebagai pegangan hidup dan kebiasaan kelompok masyarakat. Selain itu, kebudayaan berupa peninggalan benda-benda bersejarah maupun bangunan bersejarah dapat dijadikan ilmu pengetahuan oleh masyarakat untuk mengetahui perkembangan sejarah. Melalui perkembangan sejarah, masyarakat bisa menjadikan suatu aktivitas dan kebiasaan sebagai peranan kehidupan. Salah satu contoh kebudayaan yang merupakan aktivitas atau kebiasaan dalam masyarakat yaitu sikap disiplin.

B.   Identifikasi Masalah

           Permasalahan penelitian yang di ajukan dapat  diidentifikasi permasalahanny  sebagai  berikut:

1.       Pengertian Budaya

2.       Tori - Teori Budaya

 

C.   Pembatasan Masalah

                   Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus, dan menghindari pembahasan menjadi terlalu luas, maka kami perlu membatasinya. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagaai berikut.

1.      Pengertian Budaya

2.      Teori – Teori Budaya

 

 

D.   Rumusan Masalah

 

1.     Apa pengertian Budaya?

2.      Apa saja Teori-teori budaya?

 

 

E.   Tujuan Penelitian

 

 Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi pelaksanaan tugas Ilmu Budaya Dasar khususnya tentang pembahasan teori-teori budaya. Melalui karya ilmiah ini, kami mencoba untuk memberikan pengetahuan mengenai pengertian budaya dan teori-teori budaya dan senantiasa diharapkan untuk dapat dipelajari dengan baik oleh pembaca.


                                                                    BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Budaya

 

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, peristiwa itu membuktikan bahwa budaya dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

 

 Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Tiongkok. Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

 

B.   Teori – Teori Budaya

  1. Teori Evolusi

 

Teori Evolusi dapat dikatakan sebagai induk sebagai induk dari semua teori dalam antropologi. Secara tidak disadari baik emplisit maupun eksplisit pemikiran evolusionisme mempengarihi cara berfikir banyak ahli. Ada dua situasi penting yang melatarbelakangi tulisan – tulisan para evolusionis pada abad ke-19 yaitu pergulatan kamum evolusionis untuk menegakkan suatu telaah naturalistik mengenai fenomena kultural, yang oleh Tylor disenut sebagai ilmu budaya. Cara utama yang diharapkan evolusionis yaitu untuk menegakkan suatu ilmu yang menunjukkan dengan sejelas – jelasnya bahwa budaya telah berkembang setapak demi setapak dalam langkah-langkah alami

·         Dalam bidang ilmu sosial paham evolusionisme diawali oelh pemikiran E.B Taylor (1832-1917), yang menjelaskan persamaan yang terjadi pada berbagai bangsa yang berbeda, Tylor berpendapat bahwa manusia memiliki kesatuan jiwa yang sama diantara semua umat manusia sehingga menemukan pemecahan yang sama terhadap persoalan yang sama sehingga mengalami pekembangan sejarah evolusi yang sama.

·         Menurut Morgan perkembangan evolusi dibagi menjadi dua

– Evolusi Unilinier : Evolusi yang terjadi melalui satu garis yang dominan.Masyarakat akan berkembang mengikuti tahap – tahap yang sama.

–   Evolusi Multilinier : pemikiran untuk menelaah perbedaan dan kemiripan budaya melalui perbandingan antara runtutan perkembangan yang parallel, khususnya pada wilayah – wilayah yang secara geografis jauh terpisah. Menurut Leslie A. White : Evolusi budaya terjadi karena adanya pirani manusia yang berkembang untuk berakomodadi terhadap alam dan budaya mengalami kemajuan.

2.      Teori struktural fungsional

 

Teori struktural fungsional ini awalnya berangkat dari pemikiran Emile Durkheim, dimana pemikiran Durkheim ini dipengaruhi oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer. Comte dengan pemikirannya mengenai analogi organismik kemudian dikembangkan lagi oleh Herbert Spencer dengan membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat dengan organisme, hingga akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut dengan requisite functionalism, dimana ini menjadi panduan bagi analisis substantif Spencer dan penggerak analisis fungsional. Dipengaruhi oleh kedua orang ini, studi Durkheim tertanam kuat terminology organismik tersebut. Teori fungsionalisme adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer. Pemikiran structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial. Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian – bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing – masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem. Pemikiran inilah yang menjadi sumbangsih Durkheim dalam teori Parsons dan Merton mengenai struktural fungsional. Selain itu, antropologis fungsional-Malinowski dan Radcliffe Brown juga membantu membentuk berbagai perspektif fungsional modern.

 

3.      Teori Kontak Budaya

 

Budaya yang lebih tinggi dan aktif akan mempengaruhi budaya yg lebih rendah dan pasif melalui kontak budaya (Malinowski, 1983:21-23). Teori Malinowski ini sangat nampak dalam pergeseran nilai-nilai budaya kita yang condong ke Barat. Dalam era globalisasi informasi menjadi kekuatan yang sangat dahsyat dalam mempengaruhi pola pikir manusia. Budaya barat saat ini diidentikkan dengan modernitas (modernisasi), dan budaya timur diidentikkan dengan tradisional atau konvensional. Orang tidak saja mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi Barat sebagai bagian dari kebudayaan tetapi juga meniru semua gaya orang Barat, sampai-sampai yang di Barat dianggap sebagai budaya yang tidak baik tetapi setelah sampai di Timur diadopsi secara membabi buta.

 

4.      Teori Singkronisasi dan Tanggapan

             Teori Sinkronisasi Budaya (Hamelink, 1983) menyatakan “lalu lintas produk budaya masih berjalan satu arah dan pada dasarnya mempunyai mode yang sinkronik . Negara-negara Metropolis terutama Amerika Serikat menawarkan suatu model yang diikuti negara-negara satelit yang membuat seluruh proses budaya lokal menjadi kacau atau bahkan menghadapi jurang kepunahan. Dimensi-dimensi yang unik dari budaya Nusantara dalam spektrum nilai kemanusiaan yang telah berevolusi berabad-abad secara cepat tergulung oleh budaya mancanegara yang tidak jelas manfaatnya. Ironisnya hal tersebut justru terjadi ketika teknologi komunikasi telah mencapai tataran yang tinggi, sehingga kita mudah melakukan pertukaran budaya. (Dalam sumber yang sama) Hamelink juga mengatakan, bahwa dalam sejarah budaya manusia belum pernah terjadi lalu lintas satu arah dalam suatu konfrontasi budaya seperti yang kita alami saat ini. Karena sebenarnya konfrontasi budaya dua arah di mana budaya yang satu dengan budaya yang lainnya saling pengaruh mempengaruhi akan menghasilkan budaya yang lebih kaya (kompilasi).Sedangkan konfrontasi budaya searah akan memusnahkan budaya yang pasif dan lebih lemah. Menurut Hamelink, bila otonomi budaya didefinisikan sebagai kapasitas masyarkat untuk memutuskan alokasi sumber-sumber dayanya sendiri demi suatu penyesuaian diri yang memadai terhadap lingkungan, maka sinkronisasi budaya tersebut jelas merupakan ancaman bagi otonomi budaya masyarakatnya.

 

5.      Teori Orientasi Nilai Budaya

 

Teori Oreantasi Nilai Budaya ‘Theory Oreantation Value of Culture’. Menurut Kluckhon dan Strodberck soal-soal yang paling tinggi nilainya dalam kehidupan manusia dan yang ada dalam tiap kebudayaan di dunia ini menyangkut paling sedikit lima hal, yakni

(1) Human Nature atau makna hidup manusia;

(2) Man Nature atau persoalan hubungan manusia dengan alam sekitarnya;

(3) Persoalan Waktu, atau persepsepsi manusia terhadap waktu;

(4) Persoalan Aktivitas ‘Activity’, persoalan mengenai pekerjaan, karya dan amal perbuatan manusia; dan

(5) Persoalan Relasi ‘Relationality’ atau hubungan manusia dengan manusia lainnya. Dalam kenyataannya selalu beroreantasi pada nilai-nilai Pancasila, karena Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa Indonesia ternyata bukan hanya sekedar simbol-simbol, atau slogan dengan rangkaian kata-kata yang indah tetapi memiliki arah berupa nilai yang menjadi oreantasi budaya yang sangat tinggi nilainya, di mana masing-masing sila memuat kelima hal atau sila yang sangat tinggi nilainya. Masing-masing sila memuat makna hidup manusia, makna sosial, hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya, dan arah aktivitas yang selalu disinari oleh sila yang pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

       6.  Teori Fungsionalisme

Fungsionalisme adalah penekanan dominan pada antropologi khususnya penelitian   etnografis. Dalam fungsionalisme , kita harus mengeksplorasi ciri sistematik budaya yang artinya kita harus mengetahui bagaimana perkaitan antara institusi- institusi atau struktur -struktur suatu masyarakat sehingga membentuk suatu sistem yang bukat.Para fungsionalisme menyatakan bahwa fungsionalisme merupakan teori tetang proses kultural. Fungsionalisme sebagai perspektif teoritik dalam antropologi yang bertumpu pada analogi dengan organisme , artinya ia membawa kita memikirkan sistem sosial -budaya sebagai semacam organisme, yang bagian-bagiannya tidak saling berhubungan melainkan juga memberikan andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup”organisme”. Dengan demikian  dasar penjelasan fungsionalisme ialah asumsi bahwa semua sistem budaya memiliki syarat – syarat fungsional tertentu untuk memungkinkan eksitensinya atau sistem buday memiliki kebutuhan (kebutuhan sosial ala Radcliffe Brown atau bilogis individual ala Malinowski) yang semuanya harus dipenuhi agar sistem itu dapat bertahan hidup. Apabila kebutuhan ssitem fungsionalis itu tidak dipenuhi maka sistem itu akan mengalami disintegrasi dan “mati” atau akan berubah mejadi sisitem lain yang berbeda jenis. Fungsionalisme didasarkan pada pandangan yang melebihkan aspek sosial dan melihat bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari sosialisasi yang menentukan seperti apa tindakan sosialnya.

  • Fungsionalisme menurut Malinowski memandang istitusi dalam masyarakat (keluarga, politik, pendidikan, analog dengan organisme, dan setiap organ terintegrasi serta saling bergantung.

Fungsionalisme tidak untuk mengetahui asal – usul serta perkembangan suatu pranata, tetapi melihat apa fungsinya dalam konteks kehidupan masyarakat.

C.   Analisis

 

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Budaya juga memiliki enam teori, yaitu teori evolusi, teori difusi, teori fungsionalisme, teori struktur fungsional, teori kontak budaya, dan teori orientasi nilai budaya. Teori budaya itu juga berfungsi untuk mengamati hubungan-hubungan yang terjadi dalam budaya, membantu dalam mengumpulkan dan menyusun data yang relevan mengenai budaya, dan menjelaskan kebenaran  dari budaya menurut ahli.

                                                      

                                                                    BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif yang memiliki enam teori, yaitu teori evolusi, teori difusi, teori fungsionalisme, teori struktur fungsional, teori kontak budaya, dan teori orientasi nilai budaya.

 

B.     Saran

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat  yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, masyarakat harus semakin mempelajari tentang asal-usul budaya baik dari karakteristik maupun teori-teori agar mendapatkan kejelasan yang relevan mengenai budaya.

 

 

                                           DAFTAR PUSTAKA

http://blog.unnes.ac.id/wiwinwahyu99/2017/09/24/teori-teori-budaya/

https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

http://mustazab81.blogspot.com/2013/06/teori-teori-kebudayaan.html

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARYA ILMIAH BUDAYA TARIAN LOKAL SUMATERA BARAT

KARYA ILMIAH MUSIK DAN LAGU SUMATERA BARAT

KARYA ILMIAH SENI GAMBAR DAN LUKIS SUMATERA BARAT