KARYA ILMIAH SENI GAMBAR DAN LUKIS SUMATERA BARAT

 

KARYA ILMIAH

SENI GAMBAR DAN LUKIS

 SUMATERA BARAT

 


 

 

 

 

OLEH:

OZA OKTIVA

11220238

 

KELAS 1EA07

FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

2020

Kata Pengantar

 

             Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan karya ilmiah tentang “Seni Gambar dan Lukis Sumatera Barat”.

            Karya tulis ini telah kami  susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat mempelancar pembuatan karya ilmiah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar kami dapat memperbaiki karya ilmiah ini. Akhir kata, kami berharap semoga karya tulis ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.

 

Jakarta, 1 Desember 2020

 

Penulis,


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………….………………………………........…….....……i

DAFTAR ISI………………………………….………………………….....……......…...ii

BAB I PENDAHULUAN

A.   LatarBelakang……………………….……………………......……….....…...1

B.   Pembatasan Masalah………………..……………………….............….…….1

C.   Perumusan Masalah………………………………………….......….....……..1

D.   Tujuan Penulisan…………………..………………………............................2

 

BAB II PEMBAHASAN

A.   Seni Gambar dan Lukis…………………………………………….........……3

B.   Gerakan Seni Lukis Sumatera Barat ………………………………….............3

 

BAB  III PENUTUP

A.   Kesimpulan……………………………….……………………….........……..6

A.   Saran……………………………………………………………….........…….6

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Budaya lokal biasanya didefinisikan sebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikan konsep budaya lokal. Namun, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Hal itu dipengaruhi oleh faktor percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global sehingga tidak ada budaya lokal suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli.

Menurut Geertz (1981) dalam bukunya Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia, di Indonesia saat ini terdapat lebih 300 dari suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa yang berbeda dan memiliki karakteristik budaya lokal yang berbeda pula. Budaya lokal dapat berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat. Indonesia terdiri atas 33 provinsi, karena itu memiliki banyak kekayaan budaya. Kekayaan budaya tersebut dapat menjadi aset negara yang bermanfaat untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia luar.

 

B.   Pembatasan Masalah

                   Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus, dan menghindari pembahasan menjadi terlalu luas, maka kami perlu membatasinya. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini mengenai Seni Gambar dan Lukis Sumatera Barat.

 

C.   Rumusan Masalah

 

1.     Apa yang dimaksud dengan seni gambar dan lukis?

2.      Bagaimana gerakan seni lukis Sumatera Barat?

 

D.   Tujuan Penelitian

 

 Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi pelaksanaan tugas Ilmu Budaya Dasar khususnya tentang pembahasan seni gambar dan lukis budaya lokal. Melalui karya ilmiah ini, kami mencoba untuk memberikan pengetahuan mengenai seni gambar dan lukis Sumatera Barat yang senantiasa diharapkan untuk dapat dipelajari dengan baik oleh pembaca.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Seni Gambar dan Lukis

Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa dan merupakan sebuah pengembangan dari menggambar. Pada zaman dulu hingga saat ini, banyak masyarakat umum yang mengartikan lukisan sebagai kanvas yang dilukis dengan cat menggunakan kuas. Namun, saat ini sudah sangat banyak media lain yang digunakan oleh para seniman untuk dijadikan sebagai karya seni lukis. Jika di dalam karya tersebut memiliki perasaan, emosi, dan gagasan seorang seniman untuk pencapaian tertentu dapat menggunakan pigmen atau non pigmen. Atas dasar pengembangan seni lukis, kini banyak seniman yang tidak menggunakan kain kanvas sebagai media dalam melukis. Diantaranya melukis di atas kain sutra, sebagai contoh misalnya, seniman Yati Mariana Garnadi dengan karyanya yang merupakan lukisan di atas kain sutra.

Seni gambar sering disamakan artinya dengan seni lukis, kedua istilah ini menurut penulis mengandung makna yang berbeda. Kedua kata tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mencipta atau membuat bentuk tertentu yakni bentuk alamiah dan abstrak dengan media dua dimensi yang berukuran panjang kali lebar. Yang berbeda adalah cara untuk mewujudkan tujuan tersebut. Seni gambar lebih mengutamakan unsur garis untuk membuat bentuk atau wujud tertentu dimana garis adalah salah satu bagian dari unsur fisik rupa (elemen desain). Sedangkan seni lukis mengutamakan unsur warna dan tekstur lihat atau barik semu untuk mencipta bentuk tertentu.

B.   Gerakan Seni Lukis Sumatera Barat

Seni lukis di Sumatera barat semenjak zaman Belanda. Seni lukis atau lukisan yang disebut secara teknik dan pandangan Barat, tak akan salah rasanya kalau disebut baru mulai muncul sejak di sekolah guru di Bukittinggi mulai diajarkan mengambar. Baru meningkatnya ketika pelukis Wakidi, datang dari Jawa, jadi guru gambar di sekolah tersebut. Boleh dikatakan seluruh gaya melukis di Sumatera Barat, boleh juga dikatakan di seluruh Sumatera, karena muridmuridnya berasal dari berbagai daerah Sumatera, dipengaruhi oleh Wakidi. Begitulah  seorang  guru yang baik bisa memonopoli satu mazhab seni lukis di Sumatera.  Ada  kirakira  60  tahun  atau  3  generasi  gaya  Wakidi  menjadi  di Sumatera. Yang paling mengesankan dari riwayatnya ialah di zaman Belanda, dia telah dikenal oleh masyarakat Belanda. Dan sering dibeli lukisannya dengan harga tidak kalah dari harga yang dibayarkan kepada pelukis Belanda. Dan sampai sekarang masih ada orang Belanda dari negeri Belanda memesan lukisannya. Umurnya sekarang mendekati 90 tahun. Walalupun dia bukan orang Minang asli, namun apa yang  dicapainya  dalam  seni  lukisnya,  dia  terutama  pelukis  pemandangan  di daerah Minangkabau, susah membayangkan bahwa dia bukan anak alam sana. Karena pengertian berguru kepada alam, dasar falsafah dan kebudayaan Minangkabau,  secara visual, pada seni lukis Wakidi inilah yang paling lengkap dikemukakan. 



Pelukispelukis Sumbar yang telah dikenal di zaman kolonial Belanda diantaranya Nasrun A.S., Dahlan, Ilyas, Sabirin, Mudahar, Beduice (Buyung Dese), Hasan Jaffar, Ramli, Bahar, Zainal Abidin (juga seorang pelukis tulisan Arab), Oesman  Kagami  (Oeska)  Mismar,  Madjizir  dan  lainlain.  Pelukispelukis kebanyakan lepasan INS, umumnya bermunculan pada permulaan Republik Indonesia di antara lain Mara Karma, Noerdin B.A, Anwarsjam, A.A. Navis, Nurdin, Hasan Basri, Dahlan, Arbi Sama, Haznil, Gani Lubis, Huriah Adam dan lainlain.

Perkembangan  seni  lukis  di  Sumatera Barat bergeraknya  tak  cukup  di  daerah Sumatera Barat saja.  Kalau  di zaman  kolonial  manusia  Minang  pergi  merantau  untuk mencari tambahan kekayaan kaum di kampung, menambah dan meningkatkan pendidikan dan kedudukan di masyarakat di rantau, dan sebagainya; kalau dia pulang kampung seolaholah dia tidak banyak membawa pengaruh alam rantau atau jiwanya masih merasa bahwa kampung halamannya adalah tempat dia bertolak dan tempat dia kembali. Tetapi sesudah Indonesia merdeka, rantau tiba tiba  seolaholah  telah berubah  sebagai  tempat  mengubah  jiwa  anak  Minang, adalah adat tempat dia bersalin rupa lahir batin; dan manusia Minang di rantau dan di kampung seolaholah tidak bisa dipertemukan lagi. Cinta kampung cukup dibuktikan dengan pengiriman bantuan uang saja. Sebenarnya, perubahan jiwa ini tandanya  kurang  berdayanya  manusia  menghadapi  pengaruhpengaruh bertumpuk dari berbagai pergolakan, dan krisiskrisis dalam negeri, dan pengaruh kebudayaan modern yang tidak begitu kita kenal jiwanya, tetapi yang dapat mengubah kita asing dengan kebudayaan sendiri.


                                                                  Lukisan "Agam" karya Oesman Effendi,1978.

Tentang   kebudayaan modern kita telah mengatakan   ini kemajuan namanya. Mau maju, ini suatu kata makjizat bagi anak Minang di kampung.  Karena itu semuanya mau hijrah ke rantau. Rantau di sini berarti Jakarta, pulau Jawa dan ada kalanya Medan. Selama kemerdekaan, hijrah ini mengambil dimensi yang tak terkirakan, sehingga seolaholah tenagatenaga yang terbaik, lebihlebih anakanak muda yang sedang pada pucuk semangatnya habis terkuras  dari  Sumbar.  Lebihlebih  lagi  kekayaan  yang  ikut  hijrah  ke  rantau. Sehingga pada suatu saat ada orang mencatat, bahwa pembangunan yang paling terbelakang adalah di Sumbar.

                                                 Lukisan “Mesjid” karya Oesman Effendi, perkiraan tahun 1969-1978. 

Begitu pula dunia seni lukis Sumatera Barat pada suatu saat terjadi suatu peristiwa yang ikut mempengaruhi perkembangan seni lukis di Sumatera Barat.. Arus pelukis merantau bertambah. Peristiwa ini ialah suatu pameran seni lukis yang dibawa pelukis  Kusnadi atas  nama  Pemerintah  Pusat. Pameran lukisan  dari  kumpulan karyakarya pelukis Pusat diselenggarakan di Bukit Tinggi di tahun 1952. Buntut dari pameran ini adalah pengiriman beberapa pelukis (dari INS) oleh pemerintah daerah untuk meneruskan studi ke ASRI Yogya. Ada dua kali pemerintah mengeluarkan beasiswa. Yang pertama ke bagian pelukis Anwarsjam, Dahlan dan Hasan Basri. Yang kedua ke bagian pelukispelukis Arbi Sama, Jalaludin dan Husni. Sebelum dan sesudah ini telah ada beberapa orang pelukis pergi merantau untuk mencari kemajuan diri. Dan mereka berhasil dalam perjuangannya. Di antaranya bisa dimasukkan pelukis Zaini, Mara Karma, Hasan Jaffar dan Mahyuddin, Aziz BA. Pelukispelukis yang berhasil di rantau ini tidak bisa dimasukkan dalam mereka yang ikut membentuk seni lukis di Sumatera Barat. Mereka menemukan bentuknya di rantau dan harapan mereka akan kembali ke daerah tipis sekali. Pada masa permulaan Republik, ada juga perkumpulan seniman di Sumbar, “Semi” (Seniman Muda Indonesia) di Bukit Tinggi. Di antara pengurusnya A.A.  Navis. Salah satu usaha pembaharuan yang terpuji ialah usaha tipografi, pelukis Baharuddin datang dari Jakarta ke Padang Panjang. Dia memperkenalkan seni lukis modern di sekolah INS yang sedang bertempat di Padang Panjang di tahun 19521954. Prestasinya ialah pelukis Nurdin. Sesudah itu pelukis Baharudin pergi merantau lagi.


BAB III

PENUTUP

A.   Kesimpulan

Indonesia terdiri atas 33 provinsi, karena itu memiliki banyak kekayaan budaya. Kekayaan budaya tersebut dapat menjadi aset negara yang bermanfaat untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia luar. Memiliki budaya lokal berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat. Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa dan merupakan sebuah pengembangan dari menggambar. Sedangkan, Seni gambar sering disamakan artinya dengan seni lukis.

Seni lukis di Sumatera Barat sendiri ada semenjak zaman Belanda. Seni lukis atau lukisan yang disebut secara teknik dan pandangan Barat, tak akan salah rasanya kalau disebut baru mulai muncul sejak pelukis Wakidi datang dari Jawa dan menjadi guru di Bukittinggi.

B.   Saran

Mempelajari dan mengembangkan seni gambar dan lukis budaya lokal daerah sangat penting untuk mempertahankan atau menambah seni yang sudah ada. Untuk itu sebagai generasi penerus sebaiknya memulai langkah untuk mempertahankan budaya lokal dengan cara melestarikannya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://gubuakkopi.id/2017/11/01/gerakan-seni-lukis-di-sumatera-barat/

http://teorisenigambar.blogspot.com/2008/10/pendahuluan.html

http://repository.upi.edu/48839/2/S_SRP_1405704_Chapter1.pdf

https://www.nafiun.com/2013/02/budaya-lokal-pengertian-macam-macam-contoh-ciri-ciri.html

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARYA ILMIAH BUDAYA TARIAN LOKAL SUMATERA BARAT

KARYA ILMIAH MUSIK DAN LAGU SUMATERA BARAT